Desember 2004
 

1001 Busana Satu warna

 
 
 
 
Fenomena ...
Perang Gaya
1001 Busana
Buah Bibir ...
 
HOME
 

Kalau ada seorang public figure mengenakan pakaian khas, entah warna atau coraknya, jangan keburu berprasangka ia cuma punya satu baju. Ia pasti punya banyak, hanya saja warnanya sama atau coraknya khas. Ini bukan tanpa maksud. Ada yang untuk menunjukkan jati diri, tapi ada pula yang karena tuntutan pekerjaan yang akhirnya keterusan. 

 

Penulis mode Kim Johnson Gross dan Jefs Stones punya kisah menarik yang mereka ceritakan dalam buku Clothes.  Ceritanya tentang orang dengan penampilan khas itu. Tersebutlah seorang aktris Amerika bernama Jean Eagles. Aktris panggung itu  selalu datang ke tempat latihan setiap harinya dengan mengenakan gaun jersey warna hitam yang sama.

Suatu malam seorang rekan berkunjung ke rumahnya dan bintang panggung itu menyambut tamunya itu dengan gaun hitam yang sama. Hal itu membuat si rekan jadi penasaran.

“Memangnya kamu tidak punya gaun lain ?” tanya si rekan. Si aktris dengan tenang hanya menjawab begini : “Ayo ikut saya melihat isi lemari saya, “ katanya. Apa yang terjadi ? Ternyata di dalam lemari itu terdapat sekitar 20 gaun hitam yang mirip !

Terhadap orang yang punya perilaku yang khas dalam berpakaian itu, kita sebenarnya bisa main tebak-tebakan. Coba saja sebut presiden yang selalu memakai jas safari dan peci. Kita akan menunjuk Bung Karno. Kalau pahlawan dengan topi blangkon dan mantel panjang, pasti Sudirman yang kita tebak.

Tebak-tebakan makin panjang panjang dengan hadirnya penyanyi balada Ully sigar Rusadi dengan akseori etniknya, presiden Mandela dengan trademark kemeja batik dan rambut putihnya, Yasser Arafat dengan kafiyehnya sampai ilusionis Dedy Corbusier dengan mantel hitam panjang dan riasan matanya.

Memang, rambut sama hitam, tapi penampilan tidak selamanya harus kompak. Perilaku orang dalam berpakaian memang bermacam-macam. Sebagian orang merasa cukup  pantas dengan hanya mengenakan sepotong kaos dan celana jins. Namun, untuk yang lainnya penampilan macam itu belum membuat mereka pede. Mereka baru merasa benar-benar berdandan pada saat baju yang dikenakan bermerek perancang terkenal.

Namun yang menarik, mereka yang disebut dia atas lebih senang tampil dengan memakai busana, pelengkap, atribut, gaya rambut atau unsur penampilan lainnya yang selalu sama. Secara konsisten dari hari ke hari selama bertahun-tahun, orang itu memilih gaya penampilan yang itu lagi-itu lagi.

Pada akhirnya orang bisa mengidentifikasi dirinya hanya dengan menyebut salah satu unsur yang dipakainya. Karena konsisten bergaya seperti itu, ia dapat menciptakan sebuah penampilan yang khas bagi dirinya. Dalam dunia fesyen orang seperti itu disebut memiliki gaya pribadi yang akhirnya menjadi ciri pernyatan dirinya.

Jadi ikon mode

Predikat seseorang dengan tampilan khas bisa saja kemudian naik satu tingkat, yaitu menjadi orang yang disebut memiliki style atau orang yang punya gaya. 

Namun, bicara memiliki gaya itu tidak melulu bicara busana. Ada cita rasa mode, selera, sikap, kepribadian sampai gaya hidup yang ikut dibawa di dalamnya. Malah berhubungan dengan rasa peraya diri juga. Dengan kepercayaan diri itu seseorang bisa tampil beda. Untuk bisa memiliki gaya memang harus berani tampil tidak biasa. Yang tidak kalah penting, bagaimana orang itu bisa mengekspresikan karakter yang diinginkan lewat atribut penampilannya.

Nah, kalau seseorang yang punya gaya itu kemudian sanggup  mempengaruhi orang sekitarnya, di mana orang di sekitarnya akhirnya meniru dan mengikuti gaya yang dikenakannya, orang itu biasanya kemudian dinobatkan sebagai ikon mode.

Jackie sering dijadikan contoh ikon mode oleh dunia fesyen. Ketika mendampingi suaminya, Presiden John F Kennedy, wanita itu telah membentuk gaya tersendiri yang kuat. Ciri tampilannya adalah setelan mantel pak, tas jinjing, dan kacamata hitam lebar yang dikenal sebagai Jackie Look. Kelebihan ikon mode, ia menciptakan look, bukan sekedar punya tampilan khas atau punya gaya.

Coco Chanel, perancang Prancis legendaris, termasuk ikon mode lainnya. Chanel Look, yang identik dengan setelan jas dan kalung mutiara bersusun, telah menjadi gaya pakaian jutaan wanita di dunia dan belum kadaluarsa sampai sekarang.

Memang, tidak banyak orang yang bisa digolongkan sebagai orang yang punya gaya dan kemudian jadi ikon mode. Style itu berproses. Tidak ada di dalam buku, tapi berhubungan dengan kadar masukan mengenai nilai hidup yang dijalani seseorang dan wawasannya. Pematangan kepribadian semakin kuat membentuk gaya yang dibutuhkan.

Sementara intelektual seseorang tidak otomatis membentuk dirinya untuk bisa punya style. Di sekeliling kita banyak orang intelek, tapi penampilan mereka kebanyakan kelihatan kering, tanpa gaya. 

Tuntutan pekerjaan

Meski tidak banyak ikon mode, ada saja kita temui orang yang memiliki perilaku berpenampilan yang khas tadi di sekeliling kita.  Sebut saja misalnya Remy Silado, sastrawan ternama. Pada banyak kesempatan penulis novel Ca-Bau-Kan yang sudah difilmkan itu selalu muncul dengan pakaian serba putih dari ujung rambut sampai sepatu.

Mulanya waktu Remy kelas 3 SMA di Semarang, tahun 1960-an. Tahun-tahun itu, menurut dia, sedang musim sepatu putih di lingkungannya. Remy remaja pun ikut membeli sepatu putih. Tidak cukup alas kaki, ikat pinggang putih sekalian ia beli.

Kebetulan pula dari seorang rekan berkebangsaan Amerika ia mendapat hadiah berupa ballpoint dan pulpen berwarna putih. Di masa itu belum pernah ia melihat alat tulis berwarna seperti itu. Kelihatan aneh, tapi menarik.

Sejak itu ia mulai mencocok-cocokkan mulai busana sampai benda-benda keperluannya sebisa mungkin segalanya berwarna putih. “Memutihkan diri” dilakukannya sampai sekarang, mulai kacamata, tustel sampai telepon selular. Di rumahnya di Bandung, perabot pun dicat putih. Makanya, kediamannya itu kemudia ia beri  nama : Pondok Putih.

“Malah di tahun 1991 rambut saya cat putih juga, pada waktu main film Di Bawah Matahari Bali,” katanya. Sekarang Remy tidak perlu bersusah payah mencat rambutnya karena telah memutih sejalan dengan pertambahan usia.

Setelah menjadi suka warna putih, Remy mengaku mengharuskan diri memakai warna itu dan menyadari dirinya punya gaya sendiri. “Buat saya, orang harus punya pilihan warna favorit untuk dirinya,” katanya.

Jadi, proses pembentukan tampilan yang berciri khas itu biasanya berawal dari faktor kebetulan. Lalu keterusan disukai. Lama kelamaan disadari perilakunya memberi ciri sendiri yang berbeda dari orang di sekitarnya.

Ini diakui Jay Subijakto, yang ke mana saja selalu memakai setelan jas hitam kontemporer dan celana hitam. “Suatu kali saya bersama beberapa teman yang semuanya memakai baju hitam. Tiba-tiba merasa geli saja, lain dari orang di sekeliling kita,” kata  fotografer, konsultan Majalah Harper’s Bazaar dan anggota Komite seleksi Fesival Film Indonesia 2004 ini.

Bagi Jay, gaya tampilan serba hitam itu sebenarnya didasari sikap praktis semata. “Dari dulu saya orangnya malas mikir, enggak mau susah-susah mikir pakaian. Kalau sekarang pakai hitam-hitam bukan karena mau gaya. Pekerjaan menuntut,” katanya.

Berawal ketika bekerja di stasiun televisi RCTI tahun 1990an. Ketika itu semua karyawan dituntut untuk bekerja dari bawah. Semua pegawai diharuskan bisa menjadi kameraman dan memakai baju hitam-hitam supaya tidak mencolok. Karena  stasiun itu masih baru, Jay termasuk harus selalu stand by memegang kamera dan memakai pakaian serba hitam setiap hari. “Lama kelamaan keterusan. Sebenarnya tidak mau membentuk diri jadi seperti itu. Tapi lebih untuk efisiensi kerja saja, “ katanya.

Akhirnya, ia menyadari bahwa berpenampilan khas itu ada keuntungannya. Baju hitam  cocok dipakai ke mana saja untuk kerja siang sampai malam. “Ada orang meninggal atau kawinan tinggal datang, tidak perlu ganti baju dulu,” katanya.

Namun, negatifnya, Jay jadi tidak berani untuk mencoba memakai baju dengan warna lain karena akan merasa sangat tidak nyaman. “Canggung rasanya kalau pakai warna lain, selain hitam,” katanya.

Memperjelas karakter

Lain lagi Anwar Fuadi, yang gaya penampilannya identik dengan kemeja Versace, yang bermotif campuran relung Barok dan lambang Medusa dalam kombinasi warna-warni itu. Aktor sinetron itu menyadari betul bahwa ia ingin membentuk penampilannya dengan ciri tersendiri.

“Kegilaan”-nya mengenakan kemeja  Versace bermula ketika melihat aktor Roy Martin memakai  baju buatan Versace di tahun 1993. Anwar senang sekali melihat motif yang dinilainya bagus karena unik meski meriah. Saat itu belum banyak orang memakai kemeja dengan corak seperti itu. Di matanya kelihatan “aneh” dan mencolok sekali. Setelah diberitahu mereknya, ia pun membelinya.

“Saya sangat berani tampil beda. Saya senang dengan motto Versace  : Berani tampil beda !” katanya.

Di awal dekade lalu itu, kemeja motif Versace memang menjadi mode. Kini, setelah mode itu lewat, Anwar tetap memakainya ke mana saja dan menjadi trademark gaya ciri penampilannya.  “Pada dasarnya suka, merasa mantap nyaman dan saya jadi punya ciri,” katanya. Meskipun banyak kemeja dengan motif serupa, Anwar hanya mau memakai merek asli perancang Italia itu. Untuk mendapatkannya, ia membeli di Jakarta atau menitipnya setiap ada teman ke Eropa. “Saya punya 70 potong kemeja merek Versace itu,” katanya.

Pertanyaannya sekarang, perlu tidakkah seseorang memiliki gaya yang khas ? Jawabannya kembali pada tujuan seseoang ketika ingin tampil. Apakah untuk memperlihatkan kepribadian atau karakter, sekedar menunjukkan status, untuk memberi citra tertentu atau lainnya.

Akan menjadi perlu kalau pada akhirnya ciri khas itu itu dibutuhkan untuk lebih memperjelas karakter dan kepribadiannya, memperlihatkan eksistensinya. Apalagi arah mode belakangan ini banyak membantu, yaitu menuju gaya pribadi yang tidak lagi didikte oleh perancang, majalah, peragaan atau sejenisnya.

Dunia mode juga lebih marak dengan makin banyaknya hadir orang-orang yang tampil dengan ciri khas, seperti dikatakan oleh Zoran, perancang Amerika : There is no fashion without personal style. Mode itu tidak ada artinya tanpa gaya pribadi.

Ciri khas memang diperlukan karena kita bukan mahluk kloning. Sentuhan pribadi atau ungkapan identitas akan membedakan kita dari orang di sekitar. “Ciri-ciri orang besar, dia berbeda dari orang kebanyakan,’ kata Anwar Fuadi berseloroh.

Hanya saja, kalau kepribadian seseorang tidak kuat, rasa percaya diri kurang dan rikuh sendiri dengan pakaian dan gaya hidup yang dijalani, tampil dengan ciri khas itu bukannya membentuk sebuah gaya yang menawan, tapi malah terpeleset menjadi gaya “ngawur”. (MB)