Januari 2005
 

Buah Bibir Baru

 
Di balik rumah-rumah mode tenar, ada tiga perancang segar. 

 

 
 
 
 
Fenomena ...
Perang Gaya
1001 Busana
Buah Bibir ...
 
HOME

Tiga Bintang                  

Mode internasional punya tiga bintang segar.  Mereka Alessandra Facchinetti, penerus Tom Ford di Gucci, Stefano Pilati, pengganti posisi Tom Ford di rumah mode YSSL Rive Gauche dan Roberto Menicetti, perancang baru Celine setelah Michael Kors habis kontraknya.

Bagi Alessandra dan Roberto,  tidak gampang menjadi penerus raja mode macam Tom Ford. Tom telah menjadi dewa penolong ketika menyelamatkan Gucci yang hampir bangkrut dengan membangun kekaisaran dengan pemasukan 3.2 milyar dolar.

Perancang rumah mode dituntut bekerja dengan tugas ganda. Dia harus mempersiapkan koleksi yang menjadi citra sebuah merek. Pada saat yang sama menjadi mesin pencetak uang dengan menciptakan produk-produk yang hot item.

Alesandra, 32, menjadi direktur kreatif untuk divisi pakadian jadi wanita Gucci. Perempuan bersosok seperti bintang film ini masuk Gucci pada saat Christopher Bailey meninggalkan rumah mode itu. Christopher kini perancang Burberry.

Selama 4 tahun Alessandra menjabat kepala devisi desain di masa Tom Ford.

Bisa dimalklumi bila koleksi perdananya banyak menampilkan yang memperlihatkan cleavage dan swimwear. Koleksi itu berjiwa sensual. Jadi dia diramalkan mampu meneruskan Tom Ford-isme, tradisi menjual seks dalam kemasan glamor.

Kelebihan Alesandra adalah memasukkan unsur etnik. Dalam koleksi perdana itu gaun emas dicampuri motif India yang sedang menjadi isu di  Milan. Dia juga bisa menyenangkan mata pecinta glamor  dengan membuat jaket gabungan kulit buaya dan bulu burung kasuari.

“Sangat feminin, cantik sekali,” komentar Anna Wintour, editor ternama Vogue Amerika. Tapi yang penting pujian datang dari Francois-Henri Pinault. “Karyanya tetap menjaga jiwa Gucci sambil memberi imbuhan dengan gayanya sendiri,” kata putra Francois Pinault, bos PPR (Pinault Printemps Redoute), rekanan Gucci Group.

Roberto Menichetti, 38,  membuka babak baru di Celine. Rumah mode ini berdiri 1947. Mulanya toko sepatu anak-anak. Tiga tahun kemudian  mengekspansi produknya menjadi barang kulit dan aksesori. Baru 1960 menawarkan koleksi busana siap pakai.

Roberto, kelahiran Buffalo,  Amerika, pernah menjadi asisten Claude Montana dan membangun citra inovatif rumah mode Jil Sander. Sempat tiga tahun di Burberry. Akhirnya mendapat pemodal yang menopang produk pakaian jadi dengan namanya sendiri.

Roberto dikenal dengan gaya sportif dan feminin. Maka debut karirnya di Celine  bernuansa rileks. Bila Michael Kors membawa perempuan Celine dalam gaya jet set dengan mantel bulu dan cita rasa flamboyan, Roberto punya estetika lebih kasual. Gayanya ringkas dan sederhana. Gabungan tank top putih dan celana tuksedo lebar kelihatan akan menjadi tanda tangan baru Celine di bawah Roberto.

“Tapi koleksi Roberto paling bagus adalah rancangan sportswearnya. Itu menggambarkan jiwa Celine yang membuat merek  itu bersinar,” kata kritikus mode ternama Suzy Menkes.

Stefano Pilati, 38, pernah menjadi perancang di Prada, lalu 4 tahun sebagai  tangan kanan Tom Ford di YSL Rive Gauche. “Pada waktu pertama kali jatuh cinta pada fesyen, Tuan Saint Laurent adalah master-nya. Dia telah membawa kepekaan adi busana ke dalam koleksi siap pakai dan membuatnya bisa diterima. Saya akan mencoba untuk selalu mempertahakan warisan itu,” katanya.

Stefano membuktikan dalam koleksi pertamanya. Para modelnya muncul dengan  mantel hujan dan rok bersiluet balon dengan lilitan ban pinggang lebar. Gaya itu dinilai berhasil meneruskan jiwa YSL yang sangat parisienne dengan ciri chic et coquette, apik dan genit.  Dia kombinasi rasa hormatnya pada sejarah pendahulunya dengan imajinasi pribadinya yang baru.

 

Era Merek

Nama tiga bintang baru itu memang tidak setenar John Galliano ketika perancang kontroversial itu ditarik menjadi desainer rumah mode Christian Dior. Di paruh pertama melinium 3 ini nama sebuah merek lebih berbunyi dibandingkan nama perancangnya. Apalagi merek itu adalah rumah mode legendaris yang punya sejarah dan reputasi panjang. Jadi siapa pun perancangnya, sebuah merek tetap berkilau. Pengamat bilang : Kini era merek, bukan lagi jaman perancang.

Sampai tahun 1950an, dunia mode menempatkan rumah mode sebagai sentra. Konsumen datang pada perancang adi busana untuk memesan gaunnya. Ketika 1960an Pierre Cardin mempelopori jenis pakadian jadi, mode memasuki babak industri. Departement store berperan sebagai tempat interaksi antara mode dan pemakainya. Dua dekade berikut, 1980an, Calvin Klein merancang celana dalam dengan iklan provokatifnya yang difoto hitam putih oleh Bruce Weber. Ini membuka mata soal diversifikasi produk mode.  Perancang bukan hanya membuat baju, tapi juga kebutuhan lain, mulai sepatu, tas sampai seprai dan piring, seperti dilakukan Versace.

Di 1990an konglomerat mulai membeli saham rumah mode. Produk mode dijadikan barang mewah dan bisnis besar seperti juga produk mewah lainnya seperti mobil. Merek dan rumah mode dipoles citranya sebagai produk eksklusif.

Fenomena ini dimulai ketika Investcorps, gabungan bank penyedia dana yang dimotori seorang milyarder Arab, membeli rumah mode Gucci. Tom Ford dipasang sebagai perancang setelah generasi ketiga pemilik Gucci saat itu  ditembak mati dengan dramatis. Tom merubah citra perempuan Gucci yang memakai scarf klasik menjadi perempuan modern dan sexy. Dia sukses memperkaya Gucci dan membuat mode Milan berkilau.

Diam-diam Bernard Arnault, bos LVMH (Louis Vuitton Moet Henessy), pemilik produk barang mewah mulai rumah mode sampai minuman anggur, mulai panas hati. Apalagi melihat mode Milan makin marak. Padahal selama ini Parislah sebenarnya pusat mode. “Genderang perang” pun dimulai.

Untuk menjadikan Paris di atas angin, Bernard menobatkan perancang super kreatif John Galldiano sebagai desainer rumah mode Christian Dior yang kharismatik. Tidak puas sampai di situ, dia mengontrak Marc Jacobs untuk  Louis Vuitton dan  Michael Kors untuk Celine. Sudah tidak penting lagi rumah-rumah mode Prancis kini dipegang oleh perancang non Prancis.

Sebagai konglomerat produk mewah paling makmur, dengan pemasukan mencapai hampir 10 milyar dolar, menurut The House of Gucci, karangan ………, Bernard malah mencoba untuk membeli rumah mode Gucci. Rupanya chemistry antara Domenico del Sole,  CEO Gucci saat itu, dan Bernard tidak nyambung. Del Sole lebih memilih Francois Pinault, pemilik PPR ( Pinault Printemps Redoute) untuk bergabung bersama Gucci Group.

Gucci Group tidak mau kalah set. Tidak tanggung-tangung. Mereka mengincar  YSL Rive Gauche, rumah mode paling bergengsi yang saat itu masih dipegang sendiri oleh pendirinya, Yves Saint Laurent. Untuk menghormati sang maestro, Gucci Group menempatkan Tom Ford hanya sebagai perancang divisi pakaian jadi, bukan adi busana.

Tetap saja Yves tidak rela. Dalam sebuah peragaan, ketika duduk berdampingan dengan Bernard Arnault, perancang ini curhat dan memohon pada Bernard untuk mengambil alih kembali rumah modenya. Percakapan itu sempat direkam diam-diam oleh sebuah stasiun televisi Prancis dan menjadi berita yang menghebohkan ketika ditayangkan. Kejadian itu membuat wajah Yves merah malu. Akhirnya sang perancang mengundurkan diri, meninggalkan rumah mode yang dia bangun 40 tahun lalu.

Sukses Gucci memang dikenal pada bisnisnya yang jitu, mengikuti selera konsumen masa kini. Tapi masuknya kelompok bisnis pada rumah mode YSL Rive Gauche, yang identik dengan adi busana, seolah akan mengkomersilkan segalanya. Bernard sempat kasih komentar pada harian Le Figaro dengan  menyebut Gucci Group seperti jaringan restoran fast food.

Dengan memegang dua rumah mode, Tom Ford makin berjaya. Ketika kontraknya habis, ternyata tidak ada kesepakatan baru dengan Gucci Group. Perancang yang selama satu dekade seolah tak tergantikan itu, akhirnya mengundurkan diri.

Hardian International Herald Tribune melaporkan bahwa isu utamanya soal uang. Kompensasi yang diminta Tom Ford layaknya bintang sepak bola dan aktor Holywood. Kasak-kusuknya mencapai sampai 100 juta dolar yang menurut komisi PPR dianggap “kebangetan”.

“Padahal yang saya minta untuk kontrak 7 tahun ke depan masih lebih rendah dari yang lima tahun sebelumnya,” tangkis Tom dalam wawancaranya dnegan tabloid mode WWD.

Orang dalam yang ikut dalam negosiasi membeberkan bahwa bukan itu masalah utamanya. Tom menginginkan kedudukan chief executive pada Gucci Group setelah jabatan itu nantinya ditinggalkan oleh Domenico del Sole.

Ketika akhirnya Tom Ford lengser, apakah itu pertanda bahwa seorang perancang tidak boleh punya hak dalam menentukan keputusan yang menyangkut produksi hingga pemasaran produk ? Kalau begitu juga, seberapa penting peran seorang perancang dalam penciptaan citra produk mode ?

Rupanya, biarlah perancang sebatas membuat baju. Manajemen bukan urusannya. Ketika kedua jabatan itu akan dipegang seorang perancang, nasib Tom Ford-lah contohnya.

Robert Burke, direktur fesyen pada Bergdorf Goodman,  mengakui bahwa jaman sudah berubah sejak 1990an. “Konsumen tidak lagi menginginkan satu merek tertentu dari kepala sampai kaki. Jadi kepergian Ford dapat menjadi sinyal perubahan dalam dundia produk barang mewah,” katanya.

Karena sepandai-pandainya perancang baru menydiapkan koleksi, kematangan sebuah merek bergantung pada kelihaian mengelola. Itu bagian orang lain, bukan si perancang sendiri.

Sebuah merek dan rumah mode saat ini berusaha membangun citranya dengan eksklusif hingga konsumen kelas atas merasa produk yang dihasilkan tidak pasaran. Mereka juga berusaha menjaga nama baik merek yang bias menandai kegagalan manajemen.

Selebriti merupakan kunci sukses untuk membentuk citra. Sebuah merek atau rumah mode perlu mendekatkan diri dengan mereka, seperti Chanel merangkul Nicole Kidman atau Dior memasang Charlize Theron.

Mereka juga ekspansi geografi dalam pemasaran. “Bisnis kita menjadi global dan selalu menyebar pemasaran baru,”  kata Sidney Toledano, CEO Dior, pada International Herald Tribune. Misalnya, membuka butik baru di Shanghai. Secara demografi dilakukan pula. Menjangkau tidak saja kaum perempuan, tapi termasuk konsumen pria.

Cara lainnya dengan menciptakan produk dalam jumlah terbatas. Rumah mode punya strategi menciptakan sebuah produk yang kelihatannya sangat diminati karena keterbatasan untuk memperolehnya. Contohnya tas Kelly atau tas Birkin dari Hermes.

“Dalam fesyen, orang selalu menginginkan barang yang sulit didapat. Ada unsur-unsur yang selalu bermain dalam bawah sadar manusdia. Sok eksklusif adalah bagian dari psikologi orang,” kata Robert Burke lagi.

Sebuah merek terus diperbarui dengan imajinasi dan inovasi. Itu sebabnya kenapa orang begitu kagum pada Chanel karena rumah mode itu berhasil menciptakan bunga kamelia sebagai salah satu ikon merek itu. Atau Louis Vuitton dengan dengan monogram yang dipersegar coretan grafiti sampai diganti menjadi warna-warni.

Dengan semua itu sebuah merek memoles dirinya. Jadi ketika rumah-rumah mode ditinggalkan perancangnya, mereka tidak terpengaruh. Misalnya saja, Gucci Group telah menyiapkan investasi untuk merenovasi dan membuka 53 butik YSL di seluruh dundia dalam tiga tahun mendatang sekalipun tanpa Tom Ford.  Juga tidak ada berita bahwa Celine, misalnya,  akan menutup salah satu dari sekitar 100 butik yang ada di berbagai negara setelah menyelesaikan kontraknya dengan Micahel Kors.

Sebuah merek tetap berjaya berkat manajemen, legenda, tradisi, citra yang sudah melekat sejak lama. Perancang dibutuhkan untuk mempersegar semua itu.  Peran mereka kini ibarat etalase. Wajahnya berganti setiap kala sebagai daya tarik baru untuk menarik orang yang lewat di depannya agar masuk dan membeli. (MB)