13 Juli 2003
 

Perang Gaya

 
 
 
 
 
 
Fenomena ...
Perang Gaya
1001 Busana
Buah Bibir ...
 
HOME

Mode Indonesia akhir-akhir ini berjalan cukup menarik. Seperti pendulum yang bergerak dari satu kutb ke kutub lain, gaya elegan-glamor bersaing kuat dengan gaya etnik untuk merebut posisi sebagai arus besar mode di tanah air.

Sebagian perancang menampilkan  gaun-gaun elegan yang gemerlap dalam setiap kesempatan. Sementara perancang lainnya  justru mengolah busana yang bersumber dari budaya dan tekstil Nusantara. 

Dengan lokomotif perancang Sebastian Gunawan, yang memperkenalkan ballgown di peretengahan decade 1990, rancangan gaun malam glamor melahirkan fenomena mode tersendiri sampai saat ini.

Mode itu tidak saja diikuti banyak perancang dan muncul di panggung peragaan busana. Banyak konsumen wanita berminat pada tipe rancangan seperti itu, termasuk para artis lewat penampilan mereka di layar tivi maupun panggung musik.  

“Mode kita menjadi budaya pop. Semua orang seperti ingin menjadi Kris Dayanti dan lekuk tubuh seperti Inul,” kata perancang Iwan Tirta.

Rambut tinggi, gaun gemerlap dengan hiasan manik dan payet, make up tebal dan  potongan baju yang memperlihatkan lekuk tubuh menjadi ciri gaya yang dimaksud.

Menghadapi arus besar itu, sebagian perancang tidak mau kalah set. Mereka justru menampilkan yan bertolak belakang, yaitu gaya etnik. Obin dan Baron Manangsang memperkenalkan kain batik di atas kein tenun dalam warna-warna lembut. Kain batik generasi baru ini ternyata diminati banyak wanita. Tidak saja dipakai untuk kain, tapi juga sebagai selendang pengganti pashmina.

Kain batik tenun itu pun kini mudah didapat dengan harga murah di Pasar Tanah Abang. Tentu yang ini tiruannya. Bahkan seorang mantan model era 1990an yang kini membuka toko kain pun dengan jujur mengatakan bahwa kain-kainnya merupakan tiruan kain Baron.

Perancang Edward Hutabarat memperkuat posisi gaya etnik ini. Sejak memperkenalkan rancangan kebaya tahun 1995, kebaya tetap diminati sampai sekarang. Perancang ini pun secara rutin mengadakan seminar di hadapan ibu-ibu di berbagai kota di Indonesia untuk mengajak wanita agar terus memakai kain kebaya. Bahkan ia mengklaim bahwa bukunya tentang kebaya, yaitu “Busana Nasional Indonesia”, banyak di foto copy para ibu di daerah sebagai contoh untuk dibawa ke tukang jahit saat mereka menjahitkan kebayanya.

Munculnya dua mode yang kontradiktif itu tentu sungguh berbeda dengan perkembangan trend mode yang terjadi di dunia. Hanya dalam  hitungan musim trend global berubah dengan cepat. Di tahun 2003 ini saja, trend mode dunia berganti dua kali. Kalau di musim panas muncul gaya rancangan penuh kerutan, di  musim gugur nanti mode berubah lagi ke gaya praktis tahun 1960an.

“Market mode Indonesia saat ini memang sangat unik. Sementara mode dunia untuk fall mendatang sudah ganti lagi ke gaya 60an, kita di sini masih asik dengan gaya mode evening gown,” kata Samuel Mulia, chief editor majalah A+ yang terkenal dengan tulisan-tulisannya  yang tajam dan jujur mengenai perkembangan mode di Indonesia.

Dari sudut pandang perkembangan mode, kondisi mode Indonesia itu memang cukup memprihatinkan.  Artinya mode bergerak lamban dan belum memunculkan arus baru yang inovatif.

Tapi dari sudut pandang lain, gejala ini sunguh positif.

“Itu artinya Indonesia bisa menciptakan trend sendiri,” lanjut Samuel lagi.

Mungkin kita boleh menepuk dada bahwa sejak tiga terakir baru kali ini mode Indonesia tidak terlalu berkiblat ke pusat mode dunia karena tetap bertahan di gaya glamor atau etnik.

Untuk saat ini konsumen mode mendapatkan gaya elegan-glamor dan etnik dari perancang Indonesia. Kebutuhan gaya yang lebih mengikuti trend dunia dipenuhi lewat produk pakain jadi bermerek perancang dunia dan buatan Singapore, Korea dan Taiwan.

 

Fenomena mode gaun malam yang cenderung bergaya “western” itu muncul karena berbagai sebab. Salah satunya pengaruh latar belakang sosial dan budaya para perancangnya.

“Setelah Indonesia merdeka, dimulai tahun 1950an, muncul perancang  yang  berasal dari kalangan keturunan dan beragama Kristen. Misalnya Peter Sie. Mereka lebih dulu mempunyai kesempatan berorientasi ke Barat, mendapat pendidikan Belanda dan  menerima pengaruh budaya Eropa lewat gereja,” kata Iwan Tirta.

Kelompok keturunan ini pun, masih kata Iwan Tirta, lebih dulu berorientasi pada  pendidikan yang mengarah pada vocational career, seperti memasak atau menjahit.           “Kalau pribuminya kan musti jadi pegawai negeri. Kalau menjadi perancang  dianggap “banci”. Jadi kekosngan itu diisi oleh kalangan keturuan tadi,” kata Iwan Tirta.

Ini terus berlanjut sampai beberapa dekade. Hingga boleh dibilang profesi perancang di tanah air lebih didominasi oleh mereka yang memang lebih dulu berorientasi ke barat.

Latar belakang ini dengan sendirinya berpengaruh kuat pada gaya rancangan mereka yang pada akhirnya lebih kental bernunsa western, seperti gaun ballgown atau gaun malam.

“Baru belakangan muncul nama-nama pribumi. Tapi sampai sekarang, kalau melihat Lomba Perancang Mode, misalnya, juara-juaranya masih tetap dipegang oleh perancang keturunan,” kata Iwan Tirta.

Selain itu, westernisasi mode Indonesia juga dipengaruhi arus globalisasi yang masuk ke sini. Informasi yang mudah diakses lewat tivi, internet dan berbagai sumber lain secara cepat membuat gaya hidup, makanan, musik sampai mode menjadi merata di mana-mana.

“Makin lama makin kuat terasa mode tidak lagi mewakili masing-masing negara dengan cirinya masing-masing, tapi lebih pada gaya hidup internasional,” kata Samuel Mulia.

Makanya kita sudah tidak merasa aneh lagi kalau melihat gaya Nicole Kidman di atas red carpet dalam acara Oscar di Holywood tidak lama kemudian juga dipakai wanita-wanita  di Hong Kong, Paris atau Jakarta.

Faktor lainnya  muncul dari kondisi ekonomi akhir-akhir ini. Karena mendapat serbuan produk pakian jadi buatan luar yang lebih murah dan bagus, para perancang kita akhirnya lebih banyak menerima karya pesanan. Para pelanggan ini tentu saja harus dipenuhi kebutuhannya. Kebetulan gaun-gaun glamor itulah yang diminati mereka. Akhirnya kata pelanggan menjadi penentu arah mode saat ini.

“Inilah negatifnya. Mode saat ini ditentukan oleh si pemakai dan keadaaan sekelilingnya untuk memenuhi fungsi dan segement tertentu,” kata Iwan Tirta.

Ini untuk pertama kali sejak tahun 1970an,  arah mode Indonesia kembali ditentukan oleh keinginan customer. Di masa itu memang belum dikenal adanya industri mode yang melahirkan baju-baju ready to wear.  Mode masih bersifat eksklusif yang diminati hanya kalangan terbatas dan dibuat sesuai dengan keinginan pemesan.

Kini setelah para perancang mengalamai era pakaian jadi dan perancang bisa mendikte keinginan konsumen, seperti terjadi tahun 1980an dan 1990an, mereka harus kembali mengikuti lagi selera pasarnya.

Jadi latar belakang perancang, globalisasi dan selera pelanggan merupakan faktor yang pada akhirnya memberi pengaruh besar bagi terciptanya mode elegan-glamor yang menjadi salah satu kutub mode Indonesia saat ini.

Suka tidak suka, mau tidak mau, itu kenyataan yang terjadi saat ini.

“It’s a fact, “ kata Iwan Tirta. “Tapi sayang,  kurang banyak lagi insprasi yang berasal dari Indonesia.”

Melihat kenyataan itu bisa jadi gaya etnik akan sulit mengimbangi gaya western tadi. Saat ini semakin sedikit perancang muda yang tertarik untuk menampilkan busana yang diolah dari unsur tradisional.

Para perancang aliran etnik yang cukup menonjol saat ini rata-rata berumur di atas 40 tahun. Mereka berasal dari generasi lama  yang punya mental berkarya yang berbeda dari perancang generasi baru.

Para perancang saat ini tumbuh dalam kondisi serba instant. Segala aspek kehidupan bergerak cepat  dan terus membutuhkan hal-hal baru  yang disajikan dan dibuat dengan cepat

Begitu juga dengan mode. Dulu mode belum banyak dan perkembangannya  pun tidak cepat. Kita misalnya bisa mengol;ongkan mode per satu dekade karena perubahannya bisanya berlangsung setiap sepuluh tahun.  Misalnya dikenal mode tahun 1930an yang bergaya flapper atau mode 1970an yang bergaya hippy. Tapi kita tidak  menyebut mode tahun 1972, 1973 dan seterusnya.

“Kini dalam satu tahun bisa dua kali ganti trend.  Jadi bagaimana perancang muda bisa punya waktu untuk riset ke Jawa atau tempat-tempat lain untuk menggali unsur budaya atau tekstil tradisional kita ?” kata Samuel Mulia.

Serba tersedia membuat segalanya menjadi mudah. Tapi kemudahan itu membuat orang menjadi malas. Ini pun dikemukakan Iwan Tirta yang sempat mempunyai pengalamanan dengan seorang penata rias. Ketika perancang ini membutuhkan  sanggul Jawa untuk melengkapi rancangannya, sang penata rias terkenal itu ternyata tidak bisa mengerjakannya.

“Itu karena ia sudah terbiasa dengan sanggul buatan yang sudah tersedia dan tinggal dipasang di rambut. Ia tidak pernah mempelajari cara membuatnya,”  kata Iwan Tirta.

 Bukan tidak mungkin pada akhirnya gaya etnik akan kalah pamor dalam pertarungan ini karena terdesak oleh produk luar yang lebih berbau “western”. Ditambah lagi dengan sifat generasi muda yang rentan terhadap perkembangan dari yang bernapas global.

Benarkah demikian ?

“Hilang sama sekali juga tidak, karena untuk upacara-upacara tradiosonal, kain batik misalnya masih dibutuhkan,” kata Iwan Tirta

Selain itu teori tentang perubahan sosial dan budaya mungkin perlu diingat kembali. Dulu sebelum muncul arus globalisasi, setiap negara merasa bangga dengan identitas dirinya secara lokal. Tapi kemudian muncul keinginan untuk menghilangkan batas dan budaya negara hingga menjadi warga dunia dengan ciri yang sama.

Tapi pada saat semua telah menjadi sama, secara teori akan muncul  kembali reaksi terhadap keseragaman itu. Dalam konteks budaya dunia, suatu saat nanti akan kembali hadir budaya lokal karena orang merasa telah kehilangan “identitas” dan terdorong untuk menonjolkannya kembali

Di Indonesia reaksi terhadap mode gaun malam yang fenomenal itu terus muncul dalam bentuk rancangan-rancangan yang menggali unsur tradisional Indonesia, seperti dilakukan beberapa perancang belakangan ini.

Dalam peragaan tunggalnya belum lama ini, misalnya, Urban Crew menampilkan batik lusuh untuk kaum muda. Perancang muda Ary Saputra mengkombinasi gaya rancangannya dengan kain tenun Baron. Dina Midiani, tetap konsisten mengolah batik patcwork  sejak ia  perkenalkan dua tahun lalu dan sempat mendapat pesanan untuk ekspor. .

Begitu juga dengan Oscar Lawalata. Ia  masih menggarap tenun Makassar dan sempat  memamerkan karya berupa tenun Makassar bermotif tie dye. Belum lagi perancang Samuel Wattimena yang intens menggarap tekstil Indonesia untuk koleksi busana pria maupun untuk Ibu Negara kita.

Jadi, siapa pemenang dalam perang gaya ini ? Jangan tentukan pemenangnya !  Justru biarkan dua gaya itu berkembang masing-masing. Karena keseragamaan akan menghilangkan kreativitas.

Biarkan juga konsumen memilih karena setiap orang punya selera  berbeda. Lagipula di alam demokrasi  seperti sekarang ini, mode pun perlu bersikap lebih demokratis. (MB)