Nopember 2004
 

Arantxa Adi & 16 Muse

 
 
 
 
 
Aksesori ...
Batik Stretch ...
Styling  ...
Eddy Betty ...
Sebastian ...
Nonton Show ...
Opera Cina ...
Arantxa Adi
"Kutur" Hitam
Teriakan Sally
 
HOME
 

Nonton pertemanan dan perselingkuhan di Hotel Mulia.

 

Arantxa Adi punya beberapa hal yang didambakan seorang perancang. Salah satunya kesempatan menggelar peragaan di hotel berbintang. Teman dia juga banyak. Dalam bisnis mode, luwes bergaul itu bagus buat humas dan pemasaran. Buktinya ketika menggelar koleksi barunya, The Affair, 10 september 2004 di Hotel Mulia Jakarta, Arantxa Adi sanggup mendatangkan sampai 1000 tamu terdiri lingkungan dekatnya dan pers.

Ia juga serius berkarya dan bukan perancang “tabrak lari” yang sehabis menggelar peragaan busana lalu tidak berkreasi lagi.

“Saya tidak mau dibilang sehabis bikin show lalu menghilang. Saya mau serius di dunia mode, makanya saya usahakan setiap tahun menggelar peragaan,” kata perancang yang tahun lalu menggelar koleksi gaun ketupat dalam X Dimension.

Menonton peragaan Arantxa Adi ibarat makan nasi goreng komplit pakai telor. Banyak unsure dipaket dalam sebuah tontonan. Ada Marcell dengan setelan jas serba putih membuka acara dengan menembang lagu. Tamu langsung riuh. Tapi masih kalah dengan jeritan lengking Rachel Maryam yang membaca puisi karya Djenar Maesa Ayu.

Lalu ada lagi tayangan multimedia garapan fotografer Davy Linggar dengan Izabel Jahja dan Toni Cheung memainkan pasangan selingkuh di gang-gang sempit di daerah pecinan Jakarta. Undangan kembali riuh ketika sampai pada adegan penuh gairah.

Ya, gairah sebuah perselingkuhan memang menjadi inti 100 rancangan yang diperagakan kemudian. Gejolak pelaku kamaran ditransfer menjadi gaun melambai, lembut, elegan dan tertata rapi. Arantxa menyeling warna merah menyala dan biru cerah di antara monotoni gaun-gaun krem. Banginya, itulah ungkapan emosi cinta.

Tapi jantung hati koleksi malam itu adalah seri gaun hijau. Warna itu baru. Lalu seri gaun sifon putih dengan pemanis lipit-lipit. Para pembuat baju pasti tahu, menjahit lipit di atas sifon tidaklah mudah. Arantxa berhasil mengerjakannya dengan rapi dan konstruktif.

Gaun-gaunnya ringkas, cukup model kemben dengan detil lipit, tumpuk atau frills. Realistis. Tingan. Sangat mudah diterima. Tidak aneh-aneh. Tidak kuno. Daya pakainya tinggi. Kelihatan Arantxa Adi punya kekuatan membuat gaun-gaun siap pakai yang populer.

Peragaan ditutup dengan terbukanya layar belakang. Terlihat Arantxa Adi duduk di tengah 16 wanita, di antaranya Cut Tari, Marcella Zalianty, Wanda Hamidah, Regina Hutomo, Vicky Supit, Aida Nurmala, Sacha Cafrin, Kerina Cepot sampai Petty Kaunang.

“mereka adalah muse saya yang memberi inspirasi. Saya dengarkan keinginan mereka, saya liat gaya mereka berpakaian, saya dapat masukan,” kata Arantxa dalam konperensi pers beberapa jam sebelum peragaan.

Pertemanan berlanjut dua hari kemudian di rumah Arantxa Adi. Beberapa teman kembali berkumpul. Berakhir dengan Mayangsari dan Lulu Tobing membawa pulang gaun dari koleksi baru itu.

Dalam menjalankan bisnis modenya Arantxa Adi kelihatan peka pada kemauan konsumen. Tapi mungkin dia belum dengar pernyataan seorang perancang senior : Asyik berteman dan memenuhi kebutuhan konsumen akhirnya sering menumpulkan gagasan. Dunia mode banyak maunya. Yang ingin dilihat bukan hanya pertemanan. Tuntutannya berat, yaitu inovasi.

Arantxa tinggal memilih. Bertahan dengan pertemanan atau ia “selingkuh” dengan membuat terobosan desain. Pilihan kedua beresiko ditinggalkan teman, tapi gantinya mendapat pujian dari redaktur mode dan penulis mode. Dilema memang. Tapi itu dia tantangan seorang perancang.

Kalau pada akhirnya kedua hal itu (terobosan baru dan keinginan konsumen) berhasil dia gabung, itu baru namanya jagoan. (MB)