28 April 2002
 

Batik Stretch Iwan Tirta

 
 
 
 
 
Aksesori ...
Batik Stretch ...
Styling  ...
Eddy Betty ...
Sebastian ...
Nonton Show ...
Opera Cina ...
Arantxa Adi
"Kutur" Hitam
Teriakan Sally
 
HOME
 

Lima model berseragam pramugari muncul di runway mengawali  peragaan Iwan Tirta Kamis, 18 April 2002 di Hotel Mulia Jakarta. Busana mereka semuanya terbuat dari batik. Ada berupa setelan celana panjang dan blus. Ada lagi setelan rok selutut dan jaket. Lihat juga yang ini : seorang model memakai seragam berupa  blus dan rok panjang “bergaya Singapore Air lines”. Meski ia memakai rok panjang, tapi jalannya gesit, melenggang dengan genitnya sambil menarik trolly berisi kopor.

“Rok panjang pramugari itu bisa dipakai untuk jongkok dengan nyaman, lho,” kata Iwan Tirta ketika ditemui seusai peragaan di tengah kerumunan beberapa wanita yang memberinya selamat untuk peragaannya sekaligus hari jadinya siang itu.

Ya, rancangan Iwan Tirta kali ini memang berbeda dari sebelumnya. Seluruh koleksi batiknya memakai bahan katun dan nilon berserat Lycra hingga busana-busananya lebih nyaman dan elastis mengikuti gerak tubuh pemakainya. Batik stretch ini tercipta berkat kolaborasinya dengan Dupont Indonesia.

Beberapa waktu lalu Dupont sempat bekerjasama dengan perancang Carmanita yang mengolah batik modern di atas bahan berserat Lycra. Kini penghasil serat elastis itu melirik pada ragam hias tradisional.

“Pada kerjasama yang lalu garapan batiknya kurang menonjol. Sekarang kita ingin lebih memfokuskan pada batiknya karena masyarakat mengenal batik itu biasanya bermotif besar dan mencolok. Jadi kami ingin mengejar pasar yang lebih besar. Dengan tema “batik Tradisional”, kami mengajak Iwan Tirta ,” kata Djonny Suwanto, ATS Marketing Manager Dupont Indonesia.

Seperti kita ketahui Dupont selama ini dikenal sebagai penghasil berbagai serat yang dipakai untuk berbagai keperluan sehari-hari, mulai panci anti lengket di dapur sampai produk fashion yang nyaman karena menggunakan serat Lycra. Serat yang ditemukan 50 tahun lalu itu dapat regang 7 kali ukuran sebelumnya tanpa robek dan kembali ke bentuk semula.

Di Eropa dan Amerika perancang ternama dan industri tekstilnya telah memanfaatkan serat Lycra untuk produk mode mereka.

Dupont Indonesia telah dua kali mengajak perancang tanah air untuk memanfaatkan bahan elastis itu. Di antaranya dengan Urban Crew untuk gaya baju kasual dan Carmanita dengan batik modernnya. Tahun ini dalam rangka ulangtahunnya yang  ke 200, Dupont bekerjasama dengan Iwan Tirta.   

Lalu di panggung kita lihat batik stretch dirancang menjadi busana kasual bergaya pantai dan liburan. Wanitanya memakai rok dan blus santai bercorak batik geometris. Prianya memakai t shirt ketat  dan celana jins batik warna pudar.

Suasana nyaman juga terasa ketika para model berjalan dengan sarung batik dan blus longgar tanpa lengan. Motif bunga raksasa yang khas Iwan Tirta menjadi daya tarik gaun sundress yang berpotongan llonggar seperti tenda.

Dari situ muncul rancangan batik tulis sogan dengan motif  besar,  yang menjadi trademark Iwan Tirta, dalam gaya setelan rok dan blus ramping dan chic atau berupa gaun lebar gaya Audrey Hepburn.

Akhirnya peragaan ditutup dengan kemeja batik dan celana kulit serta gaun batik prada (gold) dalam potongan rok lebar atau bergaya  Spanyol,  yang khas garis rancangan Chossy Latu, perancang rumah batik Iwan Tirta belakangan ini.

Ini memang bukan peragaan yang menampilkan fashion statement. Jadi hampir tidak banyak terlihat trend atau look yang baru, kecuali busana-busana itu  bergaya sangat khas Iwan Tirta dengan motif batik tulis yang selalu berkualitas dan memukau.

Pesan peragaan ini lebih memberi gambaran tentang rasa nyaman pada saat memakai batik karena sekarang tekstil tradisional itu telah dibuat juga di atas bahan elastis.

Yang baru justru muncul dari warna batik yang tampil lebih cemerlang.

“Membuat batik di atas katun Lycra ternyata mendapatkan warna yang lebih keluar, lebih timbul.  Mungkin karena serat regang itu dilapisi katun,  jadi hasilnya lebih baik, ”kata Chossy.

Satu lagi yang mengembirakan bagi rumah batik ini, yaitu tinta prada (gold), yang jadi ciri khas batik Iwan Tirta selama ini,  juga bisa diterapkan di atas bahan berserat Lycra dengan hasil yang baik.

Tidak hanya itu keuntungan yang didapat dengan adanya batik stretch. 

“Dengan batik biasa saya agak sulit untuk mengikuti fashion masa kini yang bermodel pas badan. Adanya batik stretch,  styling bisa lebih bebas, misalnya tanpa kupnat dan hasil fittingnya lebih bagus,” kata Chossy lagi.

Iwan Tirta sendiri mengatakan dalam siaran persnya bahwa kombinasi serat sinteteis dan alami dalam bahan Lycra bisa menjadi platform untuk mengembangkan kreasi baru. Hasilnya adalah sarung stretch yang nyaman dan indah.

Tapi batik stretch dalam bentuk sarung itu kelihatannya perlu diolah kembali untuk menghasilkan bentuk dan cara pakai yang lebih maksimal setelah kita melihat   peragawati Ira Duati sebentar-sebentar membetulkan letak sarungnya saat ia memperagakannya di atas panggung.

“Sarung batik stretch memang lebih enak, fleksibel untuk dipakai jalan, tapi bahannya menempel di badan,  tidak licin seperti sarung biasa, jadi sedikit tidak rapi,” kata model ini di belakang pangung.

Chossy Latu juga mengakui memang perlu dicari cara tersendiri untuk memakai kain sarung Lycra agar jatuhnya lebih rapi  saat dipakai. Kekurangan ini bisa jadi juga terjadi  karena bahan  katunnya belum mendapatkan jenis yang cocok untuk itu.

“Seharusnya di Indonesia ini memang lebih banyak supplier tekstil yang mendatangi perancang hingga hasil rancangan seorang perancang bisa lebih kaya,” kata Iwan Tirta. Perancang ini memberi contoh bahwa sukses Christian Dior, misalnya, sangat ditunjang oleh aneka bahan dari pabrik tekstil ternama Boussac.

Bagi Iwan Tirta batik stretch ini merupakan kontribusinya pada dunia mode di tanah air, setelah ia mempelopori pembuatan batik di atas sutra dan organza, yang kemudian ditiru di mana-mana. Apa di masa datang ia juga akan membuat batik-batik mewahnya menjadi stretch semua ?

“Jangan lihat dari segi batiknya. Tapi lihatlah pemakaian Lycranya. Di luar negeri segala macam busana sampai seragam polisi sudah memakai Lycra. Saya ingin membuka jalan ke arah situ dengan menggarap leisure wear dan baju renang,” kata Iwan Tirta.

Jadi peragaan ini memang benar-benar membawa misi untuk memperkenalkan dan memberi inspirasi pada pengusaha tekstil, garment dan penerbangan untuk memproduksi dan memanfaatkan batik stetch menjadi berbagai jenis busana. 

”Kami memang ingin agar image batik bukan sebagai produk yang glamor, tapi diturunkan untuk kebutuhan yang lebih luas, misalnya untuk industri pariwisata. Kita, kan, punya  banyak resort atau spa yang bisa memanfaatkan batik stretch sebagai pakaian atau seragam karena nyaman dan dinamis. Selain itu target kita juga ingin agar seragam Garuda memakai batik Lycra,” kata Djonny Suwanto lagi.

Kalau keinginan itu terjadi,  sudah pasti para pramugari kita akan semakin luwes bekerja karena ia kian gesit melangkah maupun mudah berjongkok seperti kita sudah lihat di awal peragaan. (MB)