Nopember 2004
 

‘Kutur’ Hitam ? Siapa Takut !

 
 

 
 
 
Aksesori ...
Batik Stretch ...
Styling  ...
Eddy Betty ...
Sebastian ...
Nonton Show ...
Opera Cina ...
Arantxa Adi
"Kutur" Hitam
Teriakan Sally
 
HOME
 

Oscar Lawalata peragakan koleksi mini. Semuanya hitam.

Sebuah lorong terbuat dari kain hitam berdiri di selasar pusat pertokoan Dharmawangsa Square, Jakarta, 1 Oktober 2004 malam. Di dalamnya terpajang karya 12 fotografer fashion Indonesia. Beberapa wajah terkenal, mulai Ria Irawan, Nicolas Saputra, Sebastian Gunawan, Samuel Rizal sampai Delon, jadi obyek foto. Itulah Modern Inspiring People, ekspo foto yang diadakan majalaj a+ dan menjadi acara pembuka Mercedez-Benz Indonesia Fashion Festival 2004 yang berlangsung sampai 10 Oktober 2004.

Para tamu yang berdress code hitam digiring ke La Dolce Vita, sebuah klub masih di area itu untuk menyaksikan peragaan busana Oscar Lawalata. Yang langsung menraik perhatian adalah panggung di satu pojok dengan layar ungu. Seorang rekan nyeletuk, “Suasananya seperti klub-klub gay di Eropa, ya ?”

Kita langsung asyik dengan pembicaraan tentang disko dan klub-klub kecil yang sering menampilkan pertunjukan drag queen dengan cirri gaun berkilau yang khas, dandanan tebal dan memakai bulu-bulu di kepala. Obrolan sampai juga ke asal muasal klub kecil seperti itu, Moulin Rouge, tempat penari malam mempertunjukkan kabaretnya yang penuh topi bulu.

Percakapan berhenti ketika Izabel Jahja, yang malam itu jadi MC, mengumumkan peragaan dimulai : Inilah Black Couture dari Oscar Lawalata !

Couture ? Untuk bisa menyebut kata itu sefasih Gerad Depardieu saja, saya perlu memajukan bibir saya jauh ke depan. Apalagi untuk memahami koleksi gaun-gaun adi busana itu. Konon di negeri asalnya, Prancis, couture di mengerti sebagai tipe baju paling eksklusif. Dibuat hanya satu. Bahannya khusus. Aksesori tidak ada duanya. Garis desain apalagi.

Soal hitam ? Saya sih tidak takut. Karena saya cukup paham bahwa ada 8 alasana kenapa orang senang hitam : 1. Tidak cepat kotor. 2. Menyamarkan baju itu dari baru atau lama. 3. Cocok dengan semua warna. 4.Kesannya lebih dressy. 5. Bisa menampilkan berbagai kesan, dari elegan sampai groovy. 6. Citra modenya kuat. 7. Tidak kenal waktu, geografi, dan musim. 8. Menguruskan.

Itu menurut saya. Supaya tidak salah, saya Tanya saja langsung ke perancangnya.

 

Oscar, apa maksud “Black Couture’ ?

Sebenarnya ini hanya mini collection, Cuma 12 baju. Saya lebih ingin kasih lihat environment, moodnya saja. Ingin sesuatu yang lebih magis, mistis. Dari stylingnya, juga sampai make up dan aksesorinya.

Peragaan dibuka dengan munculnya dua gaun panjang yang bagian bawahnya ditekuk balik ke arah dalam membentuk siluet balon. Mengingatkan saya pada gaun balon Balenciaga tahun 1950an yang dipakai model ternama Elsa Fonsagrive dan dipopulerkan lewat foto Irving Penn.

Di tangan Oscar, siluet balon diolah dalam gaya dramatis dengan riasan hitam memanjang dari pelupuk mata sampai dahi seperti sayap elang. Kepala model dihiasi topi bulu-bulu burung hitam yang disusun berbentuk kipas seperti penari kabaret dan karnaval. Gaun berikutnya bersiluet korset dengan aksen payet di torso lalu pecah ke bawah menjadi rok saputangan berlapis-lapis. Gaun ini merupakan perkembangan dari koleksi The Last Concubine. Dying Gracefully yang digelar Maret lalu dalam versi hitamnya. Supaya tambah jelas, saya Tanya lagi pada perancangnya :

Oscar, apa keistimewaan koleksi ini ?

Sebenarnya bentuk baju itu sendiri, saya bikin lebih bervolume. Di seluruh koleksi bisa dilihat cara menstyling, penempatan bis, volume baju, cutting, jatuhnya bahan, juga pekerjaan tangan. Dengan proses itu pekerjaan rumahnya adalah bagaimana baju itu bisa praktis dan tidak rumit saat dipakai. Jadi saya membuat polanya di atas patung. Lebih banyak cutting Eropa, misalnya rok balon. Tapi saya mix dengan yang lain.

Peragaan terus berjalan. Topi bulu berbagai bentuk menjadi daya tarik baru koleksi ‘kutur’ hitam ini. Saya jadi ingat tulisan Colin McDowell dalam Hats. Status, Style and Glamour : “Topi itu menyatakan kepribadian dan status pemakainya. Topi itu benda paling tidak natural dari semua unsur penampilan. Paling tidak dibutuhkan, tapi sangat berpengaruh.”

Topi bulu sendiri baru dipakai orang abad 14 ketika berburu menjadi gaya hidup baru kaum pria Eropa. Sampai abad 17 topi bulu menjadi symbol status dan kekayaan, apalagi bila bulunya jenis langka. Akhir abad 18 topi bulu mencapai puncak popularitas ketika keluar dari kalangan istana dan masuk ke panggung hiburan malam di pusat kabaret Paris, Mouling Rouge. Jacques Fath, pionir baju couture abad 20, menjadikannya benda mode. Sekarang topi bulu dipakai mulai dunia mode sampai panggung kabaret dan penari jalan dalam banyak karnaval. Di Indonesia topi bulu dipopulerkan Guruh Soekarno Putra lewat grup Swara Mahardhika tahun 1980an. Maka topi bulu menjadi aksesori utama penari latar.

Supaya lebih memahami couture, saya Tanya lagi pada perancangnya.

Kenapa banyak pakai head dress bulu burung ?

Sebenarnya sebagai aksesori saja. Ingin kasih lihat kesan mistis, melengkapi mistis tadi.

Lalu model Ochi, dengan postur proporsional, menarik perhatian penonton ketika muncul dengan gaun tulle mini dan celana super pendek yang memperlihatkan kaki jenjangnya yang indah. Dengan topi bulu tinggi, model bertulang pipi tinggi itu menjadi “queen of the night”.

Ia meliukkan badannya. Satu kaki diangkat ke atas, lalu ditempelkan ke dinding panggung. Ia kemudian turun ke lantai kayu. Berpose dengan kedua tangan bertolak pinggang dan siku di tekan ke arah depan sambil muka mendongak ke atas.

Dengan gaun yang dikerjakan eksklusif, memakai topi bulu dan koreografi yang mengharuskannya merayap di dinding seperti spiderman itu, saya jadi penasaran dengan makna couture yang sesungguhnya.

Apa arti couture buat Oscar ?

Lebih pengerjaan spesial. Zaman dulu kan spesial banget. Sekarang jaman hi tech, sudah sepraktis mungkin pembuatannya. Kerjaan tangan sedikit saja sudah cukup dibilang couture. Sekarang kan batik tulis dan print saja tidak bisa dibedakan. Untuk di era sekarang, couture dibuat dengan kerjaan tangan dan rasa.

Kepala saya mengangguk-angguk serasa mengerti. Namun pikiran saya menerawang, couture, couture, couture (MB)