29 Juni 2003
 

Styling Menarik Untuk Desain Basic

 
 
 
 
 
Aksesori ...
Batik Stretch ...
Styling  ...
Eddy Betty ...
Sebastian ...
Nonton Show ...
Opera Cina ...
Arantxa Adi
"Kutur" Hitam
Teriakan Sally
 
HOME
 

Dengan gaya eclectic – blus paisley dikombinasi celana knickers dari bahan satin yang lagi mode dan topi baret-  penyanyi Titi DJ duduk di baris depan dalam peragaan koleksi terbaru Urban Crew,  Rabu, 18 Juni 2003, dalam acara “Exotic City Party” di Embassy, Jakarta.

Di seberang sana terlihat juga Alex Abad.  Pembawa acara pria ini pun  tampil begitu fashionable dengan topi Panama dan jaket kinky.

Seperti biasa kedua selebriti ini selalu tau bagaimana memainkan padu padan  menjadi busana yang gaya. Berpakaian dengan gaya memang bukan diukur dari trendynya baju yang dipakai seseorang. Cara dia menata pakaian (styling) bisa menjadi satu faktor sangat penting untuk mendapatkan penampilan yang gaya.

Kekuatan styling itu bukan hanya menjadi berita di luar panggung, tapi juga merupakan  cerita utama di atas panggung peragaan yang digelar pasangan perancang Era M Sokamto dan Ichwan H Thoha malam itu. Peragaan yang digelar di klub paling hype di ibukota itu menampilkan koleksi busana wanita dan pria.

Dengan formula padu padan yang menarik, mereka bisa menampilkan baju-baju basic, seperti singlet, kemeja,  jaket, rok sederhana atau celana jeans patcwork yang sudah sering kita lihat,  menjadi satu paduan yang enak dilihat. 

Duo perancang ini memberi judul koleksinya “Rejuvenescence”.  Mereka menggabungnya dari kata “to rejuvenate” dan “essence”, seperti tertulis dalam press release yang dibagikan kepada media. Selain bisa membuat lidah terpeleset menyebutnya,  judul itu mungkin sulit dipahami betul maknanya.

Tapi kaum muda  kelihatannya tidak perlu terlalu peduli dengan alasan.  Seperti tidak perdulinya mereka dengan peragaan yang terlambat sampai satu jam dari jadwal. Atau juga tidak perdulinya mereka dengan koleksi 2003 yang kok baru dipresentasikan di tengah tahun. Yang penting berpakaianlah dengan keren, datang ke klub, lalu party

“Mood kami berdua  sedang ingin rileks seperti orang ke pesta atau kembali rileks di spa,”  ungkap Ichwan H Thoha di belakang panggung seusai peragaan.

Sikap rileks itu dihadirkan dalam rancangan-rancangan yang diambil dari gaya busana Timur Tengah, seperti Turki, Maroko dan oriental,  seperti India dan Indonesia.

Konsep itu sebenarnya termasuk klise. Tidak sedikit perancang telah menerjemahkan “ide kembali pada ketenangan jiwa” itu dengan mengambil referensi dari busana-busana di negeri Timur, pusatnya meditasi dunia.

Pemikiran itu sebenarnya dipelopori oleh kaum muda hippy ketika mencari kedamaian ke  India pada era 1970.  Hal itu kemudian mengilhami para perancang di masa itu. Sejak itu dunia mode selalu menerjemahkan tema rileksasi ke dalam bentuk pakaian dari Timur.

Dengan kekuatan pada styling busana, napas eksotik itu meraka gabung dengan gaya Barat. Terciptalah rancangan-rancangan bergaya  mix culture versi kedua perancang itu. 

Seorang model pria, misalnya, memakai singlet tie dye dengan celana kargo multi pockets. Rambutnya disisir berdiri seperti gaya rambut suku Indian Mohawk. Styling ini  menciptakan gaya tampilan yang unik.

Bayangkan juga gaya rancangan ini. Kafieh, yaitu scarf merah bermotif houndstooth yang  khas Yasser Arafat, diikat di bawah blus tunik menjadi styling baru. Atau yang ini  : Kemeja kaftan gaya pria Maroko dipakai oleh model pria dengan rambut rasta ala Bob Marley, guru musik reggae dunia.

Harus diakui suksesnya padu padan itu sangat ditunjang oleh tata rias wajah dan rambut yang dikerjakan oleh makeup artist berbakat Qiqi franky. Rias wajah bergaya gosong (tan) dan glossy membantu menciptakan kesan eksotik. Rambut gaya Mohawk dan rasta Bob Marley benar-benar orisinal dan baru pertama kali muncul dalam panggung peragaan selama ini.

Kebebasan dalam styling itu memang pada akhirnya membuat koleksi ini sangat bergaya “hippy”, yang punya jiwa eksotik dan bebas. Suatu ketika duo perancang ini memang pernah mengatakan bahwa inspirasi mereka banyak melihat pada gaya  Woodstock music, pagelaran musik paling akbar di 1970an, yang intinya rebelation.

Satu hal yang cukup mengejutkan dalam koleksi ini adalah munculnya rancangan dari bahan batik lusuh.  Sebuah perubahan besar bagi Urban Crew yang salama ini lebih tertarik pada baju sportif, kontemporer dan  non etnik.

Gaya busana dari batik lusuh pernah populer di dunia mode tahun 1980an. Saat itu mode Indonesia baru tumbuh dan banyak memanfaatkan produk lokal untuk mencari identitas. Tapi kini,  di tengah arus besar mode di Indonesia yang sedang menggemari gaun-gaun elegan dan glamor, munculnya pemakaian batik lusuh merupakan sebuah pemberontakan dan keberanian tersendiri. Apalagi diperkenalkan untuk kaum muda yang biasanya sungguh enggan memakai bahan tradisional itu. 

“Kenapa tidak memakai produk lokal, yang penting tampilkan secara kosmopolitan,” kata Ichwan H Thoha.

Bagi sang perancang, kosmopolitan itu artinya batik dengan potongan pas badan  yang kelihatan  lebih bergaya muda dan modis. Lihat misalnya blus batik ketat yang  dikombinasi rok dan jaket jeans. Ada lagi blus batik lusuh  berlengan longgar dengan aksen bahan polos berhias bordir yang efeknya seperti obi, ikat pinggang lebar khas Jepang.

“Saya suka dengan gagasan batik dan detil-detil sulamnnya, ” kata Titi DJ ketika ditanya komentarnya. Tapi artis ini  mengakui tidak tertarik dengan batik karena ia merasa memang bukan orang yang cocok dengan bahan tradisional itu. 

Ia lebih mengincar gaun baby doll warna oranye terang dengan hiasan bordir di bagian bawah dadanya.

Menjadikan batik kelihatan kosmopolitan rupanya tidak gampang. Kedua perancang ini pun kelihatan terpecah konsentrasinya antara ingin menampilkan batik lusuh dalam bentuk kosmopolitan, tapi di lain sisi ingin tetap mempertahankan gaya eksotiknya. 

Untuk pria, misalnya, duo perancang ini menjadikan batik lusuh itu sebagai baju gaya kurta, baju tradisional pria India,  dan celana sarung. Untuk wanitanya blus pendek gaya baby doll seperti baju-baju leisure wear. Wajah para modelnya lalu diberi mihindi dan anting yang menyambung ke hidung, seperti biasa dipakai wanita tradisional India. Hasilnya, garapan batik lusuh itu akhirnya kembali berkesan etnik dan tradisional.

Tapi kembali lagi, kaum muda memang adakalanya senang dengan pemikiran yang bertolak belakang. Mungkin itu bagian dari sikap memberontak mereka. Toh semua kekurangan bisa ditutupi dengan styling yang bebas.

Kalaupun pada akhirnya styling telah membuat presentasi karya mereka enak diikuti, ini bisa dimalklumi. Keduanya memiliki latar belakang karir yang menunjang.

Keduanya lulusan sekolah mode Lasalle Singapur. Era M Soekamto yang lulus lebih dulu,  bekerja di pabrik tekstil Tarumatex sebagai perancang. Kini ia tenaga pengajar pada Lassale Jakarta.

Ichwan H Thoha sempat menjadi redaktur mode majalah remaja Hai. Di media ini ia banyak mengerjakan styling untuk pemotretan halaman mode yang mengasah bakatnya untuk menata busana dengan kreatif.

Era kemudian ikut Indonesia Young Designers Contest dan menjadi juara. Dari situ mereka membentuk “Urban Crew” untuk pasar kaum muda dengan modal usaha yang mereka kumpulkan dari gaji masing-masing.

Dengan modal konsep dan keberanian, mereka datangi Dupont Lycra untuk menjadi sponsor peragaan tunggal mereka pertama.

Sejak itu “Urban Crew” mulai diperhitungakn dalam peta mode di tanah air. Rancangan mereka pun mulai  masuk dunia hiburan. Beberapa grup musik memakai kostum rancangan mereka untuk penampilan panggung dan video klip.

Kini mungkin mereka satu-satunya merek busana karya perancang yang konsisten bergerak di jalur pakaian jadi untuk kaum muda. 

Ini untuk ke tujuh kali Urban Crew menggelar koleksi tunggal. Sudah sejak tiga tahun terakhir mereka menunjukkan kemahiran dalam hal styling busana. Tapi di lain sisi kita jadi semakin hafal dalam membaca pola styling mereka. Formulanya seperti ini : Supaya kelihatan gaya, lilitlah ikat pinggang lebar di atas paduan celana hipster dan blus ketat atau gaun.

Mereka mungkin lupa, gaya ikat pinggang lebar yang dililit di pinggul sudah out of fashion dan ada di mana-mana.

“Ikat pinggang lebar dan celana jeans sudah terlalu banyak di lemari saya,” kata  seorang gadis muda yang tidak mau disebutkan