Edisi Juni 2002
       
     

Chiffon For All Seasons

       
       
 
 
 
Chiffon For ...
Bahan ...
Merenda Hari ...
 
HOME
 
   

Chiffon digemari sepanjang sejarah mode dan kini kembali menampilkan sisi ringannya.Padahal dulunya dipakai hanya untuk busana kalangan istana dan sempat pula membuat skandal di dunia perfilman.

Chiffon : bahan ringan, halus, tipis, tembus pandang,  yang diciptakan dari benang melintir yang rapat sekali. Bisa terbuat dari serat sutra, wol atau sintetis. Khususnya dipakai untuk gaun malam. Scarf chiffon populer di tahun 1950 dan 1960an. (The Encylopedia of Fashion karangan Giorgiana O’Hara)

Sampai 1950an

Sejarah mode tidak sempat mencatat pencipta chiffon dan perancang pertama yang mengunakannya sebagai busana wanita. Setidaknya pelukis Giovanni Boldini pada tahun 1896 melukis seorang model yang memakai gaun tipis tertiup angin. Meski demikian, chiffon diduga sudah digemari jauh sebelumnya.

Sampai akhir tahun 1950an, chiffon lebih banyak dirancang untuk gaun-gaun istimewa para raja, bangsawan, wanita kelas atas  atau aktris Holywwod. Dengan karakternya yang eksklusif, chiffon khusus dirancang sebagai gaun malam.

Di tahun pertengahan tahun 1930, Adrian, perancang kostum untuk studio MGM Holywood,  populer dengan rancangannya yang memiliki gaya khas. “Ia dikenal dengan gaun malamnya yang berkesan halus dan romantis yang terbuat dari renda, tulle atau chiffon,” tulis David Bond dalam bukunya Glamour in Fashion.

Artis legendaries Marlene Dietrich tampil mengenakan gaun chiffon yang memperlihatkan lekuk tubuhnya dalam film “Desire” produksi 1936.

Tahun 1950an chiffon populer dalam bentuk scarf. Masa itu scarf chiffon menjadi bagian penting dari penampilan elegan para selebriti dan wanita kelas atas, seperti Grace Kelly.

1960-1970an

Tahun 1968 perancang Yves Saint Laurent meluncurkan karya kontroversi berupa blus  tembus pandang tanpa bra. Itulah untuk pertama kalinya dunia mode terbuka matanya bukan saja karena transparansinya, tapi juga karena lahirnya ide untuk menjadikan chiffon sebagai busana biasa.

Aktris serba bisa Barbara Streisand membuat skandal dalam malam penyerahan Oscar di tahun 1969 ketika ia tampil mengenakan blus dan celana panjang dari bahan tipis yang meperlihatkan bra dan celana pendeknya.

Di tahun 1970an, chiffon pun muncul sebagai busana kaum muda hippy. Mereka memiliki gaya pakaian khas yang mencampur budaya Barat dan Timur, seperti memakai jins dan blus India atau blus petani pedesaan. Blus chiffon dari bahan bercorak Asia dan folklorik sangat digemari saat itu.

1980-1990an

Hampir setiap dekade chiffon muncul dengan napas baru. Pada era 1980an  dan 1990an diperkenalkan rok dan celana panjang wanita dari bahan chiffon.

Tidak ketinggalan perancang Tanah Air ikut mempopulerkan chiffon sebagai bagian dari mode Indonesia, dipelopori perancang Biyan. Bahan ini pun berkembang menjadi gaya etnik ketika perancang memindahkan ragam hias budaya Nusantara menjadi motif cetak di atas chiffon, seperti banyak dilakukan Ghea Panggabean atau Itang Yunasz.

Di pertengahan 1990, perancang kontroversial John Galliano menciptakan gaun panjang berpotongan serong dari bahan chiffon, yang dikenal memiliki tingkat kesulitan tinggi dalam menjahitnya. Kembali bahan transparan mengilhami banyak wanita untuk memakainya sebagai gaun panjang.

2002

Dengan kembalinya gaya romantis sebagai tema utama mode dunia di tahun 2002, para perancang juga kembali mengajak bahan chiffon menjadi bagian dari kelembutan itu. Munculah gaun panjang melayang, blus folklorik tembus pandang sampai rok tipis halus yang melambai lembut. Semuanya merayakan popularitas chiffon yang selalu digemari sepanjang masa. (MB)