Gaun Pengantin

 
       
 
 
 
Cara Supaya ...
Celana Yang ...
Thank God It's ...
Karakter Dulu, ...
Tetap Gaya Di ...
Gaun Pengantin
Bahasa Tubuh ...
 
HOME
 

Sampai akhir dekade 1980an, tidak terlalu mudah untuk mendapatkan gaun pengantin Barat yang baik dari segi desain dan kualitas. Calon pengantin harus merasa cukup puas dengan baju-baju yang disediakan oleh tempat penyewaan baju pengantin atau di salon-salon kecantikan, yang kebanyakan modelnya seperti kostum dalam dongeng-dongeng anak-anak.

Sejak awal 1990an, barulah beberapa perancang mode kita mulai merancang dan menerima pesanan busana pengantin. Sebut saja misalnya Sebastian Gunawan, Didi Budiardjo atau Susan Budihardjo. Perancang yang disebut terakhir malah membuka butik khusus baju pengantin karyanya di sebuah plaza.

Hadirnya para perancang mode membuat bentuk atau tampilan busana pengantin Barat menjadi lebih canggih. Dengan desain, teknik dan detil yang jauh lebih terarah, karya mereka ikut mempengaruhi gaya busana pengantin yang ada di pasar dan membentuk selera konsumen yang lebih baik.

Di tengah maraknya bisnis busana pengantin saat ini, para perancang mode ikut merasakan dampaknya. Didi Budiardjo mengakui bahwa bisnis busana pengantin mempunyai peluang besar di Indonesia.

 “Tiap tahun pemesannya bisa meningkat sampai 100 persen. Untuk sementara saya memang belum membuka line khusus busana pengantin. Tapi untuk jangka panjang, prospeknya besar,” kata perancang yang mulai merancang gaun pengantin sejak 8 tahun lalu ini.

Hal senada diungkapkan pula oleh Sebastian Gunawan, yang memulai bisnis ini bersamaan dengan awal karirnya sebagai perancang mode tahun 1993, sekembalinya dari sekolah mode di Itali.

Prospek baik itu dilihat dari pengalamannya selama tahun 2001 lalu, yang menerima pesanan gaun pengantin sekitar 30 buah sepanjang tahun.  Sebuah angka yang cukup menjanjikan untuk bisnis gaun pengantin, yang harga sebuah rancangannya,  menurut Didi Budiardjo, bisa mencapai 3 sampai 5 kali lipat dari harga sebuah gaun pesta.

Ada beberapa faktor yang membuat meningkatnya minat sekelompok masyarakat kita memesankan gaun pengantinnya pada perancang mode. Pertama, calon pengantin ingin mendapatkan busana pengantin yang benar-benar sesuai dengan bentuk tubuhnya yang dibuat khusus oleh tangan yang ahli. 

Selain itu apresiasi masyarakat pada gaun pengantin sudah semakin baik. Mereka juga semakin memahami peran perancang yang tidak sekedar membikin busana, tapi juga memberikan konsultasi.

Budaya menyelenggarakan pesta pernikahan dalam skala besar ikut mempengaruhi. Dengan tempat di ballroom hotel dan jumlah tamu sampai 3000 orang, diperlukan  rancangan khusus yang bisa membuat calon pengantin tampil lebih menonjol sebagai fokus perhatian. Para perancanglah yang dianggap mampu merealisasikan kebutuhan itu.

Akhirnya, bisnis ini tetap marak karena populasi penduduk yang juga tidak sedikit.

Meskipun demikian pergeseran kelompok usia yang akan menikah ikut berpengharuh pada pasar. Sekitar 10 tahun lalu, rata-rata usia nikah antara 19 sampai 25 tahun. Sekarang usai nikahnya antara  22 –30 tahun karena wanita semakin mandiri, yang  tidak lagi menuruti keinginan orangtua, yang mengharuskan mereka menikah begitu selesai sekolah. 

“Wanita sekarang memilih pola hidup menyelesaikan pendidikan,  bekerja dan baru menikah. Dengan begitu jumlah konsumen ikut berpengaruh, sedikit menurun,”  kata Sebastian Gunawan.

Dalam soal pilihan busana, calon pengantin  memang semakin peka dalam menentukan busana yang mereka inginkan, baik desain dan harga. Seperti apa gaun pengantin Barat yang banyak diinginkan calon pengantin akhir-akhir ini ?

“Orang Indonesia suka yang klasik. Gaun pengantin yang aman tetap merupakan plihan utama. Artinya gaun-gaun dengan rok lebar,” kata Didi.

Untuk atasannya, model bustier saat ini sangat digemari. Sudah tentu gaun itu pun harus kelihatan glamour dan berkilau dengan hiasan bead,  kristal atau bunga-bungaan. Veil yang digemari berukuran panjang sampai 3 meter dengan sentuhan bead yang sederhana.

Seperti juga gaun malam atau gaun pesta, gaun pengantin perlu ketelitian tersendiri tersendiri dalam pembuatannya.

“Kita punya tanggung jawab yang besar sekali untuk membuat karya yang sempurna. Jadi semua unsur, mulai model, bahan sampai eksekusinya, tidak boleh salah,”  kata Didi.

Kesempurnaan itu juga ditentukan oleh faktor pengenalan karakter dan tubuh si calon pengantin, supaya gaun itu tidak membuatnya menjadi orang lain.

Secara teknik pun perlu kesempurnaan. Bentuk rok lebar, misalnya, harus benar-benar mengembang dengan baik, tapi sekaligus harus seringan mungkin hingga tidak membebani pemakai.

“Jangankan awam, seorang model yang sudah biasa membawakan baju pengantin dalam show kadang menemui kesulitan dalam membawakan gaun pengantin pada hari pernikahannya kalau konstruksi roknya tidak sempurna,” kata Didi. Ia sendiri mengakui perlu waktu 3 sampai 4 tahun untuk bisa berhasil membuat rok rancangannya mengembang dengan sempurna.

Meskipun bisnis ini menjanjikan, tapi ada juga kendalanya. Hal yang paling sering dialami  adalah menyatukan keinginan klien dan perancang. Pada umumnya calon pengantin datang dengan sudah membawa keinginan mereka yang sulit dikompromi.

“Pernah ada pengantin muda yang ingin dibuatkan gaun seperti rancangan Vera Wang karena ingin looknya kelihatan internasional. Tapi mereka lupa kalau di Amerika biasanya pestanya kecil dengan hanya 300 orang dan diadakan di kebun atau ruang terbatas. Tapi di sini kan maunya di ballroom yang butuh gaun pengantin yang tidak membuat calon pengantin tenggelam oleh besarnya ruang,” cerita Sebastian.

Selain itu lamanya waktu pengerjaan juga menjadi kendala tersendiri. 

“Bagi saya gaun pengantin itu seperti bunga, yang harus mekar pada saat yang tepat. Padahal humid di Indonesia tinggi,  yang membuat bahan seperti satin duchesse, misalnya,  tidak mengembang dengan baik. Atau udara berdebu yang membuat bahan putih cepat kotor. Jadi persiapannya perlu secepatnya, padahal membuat gaun pengantin butuh waktu yang lama,”  kata Didi.

Toh di tengah berbagai kendala itu mereka akhirnya merasa puas pada saat calon pengantin juga merasa puas dan bahagia dengan gaun yang mereka ciptakan. Kepuasan itu akan bertambah lagi pada saat kreativitas dan konsep mereka bisa sepenuhnya terwujud.

Bahkan satu dua karya mereka tidak akan bisa dilupakan karena begitu membekas di hati dan memberi kepuasan tersendiri.

“Saya paling suka pada waktu menbuat gaun pengantin Barat dengan warna merah ! Kebetulan waktu itu tema pernikahannya adalah “Chinese”. Jadi sampai dekorasi semuanya serba merah dengan sentuhan gold,” kenang Sebastian.

Akhirnya, dalam bisnis gaun pengantin yang makin marak ini,  kedua perancang ini tidak terlalu merisaukan adanya kompetisi di antara sesama perancang maupun produsen baju pengantin yang ada. Masing-masing punya pasarnya sendiri-sendiri.

“Mereka yang dananya terbatas akan mendatangi tempat penyewaan. Tapi calon pengantin yang lebih mampu bisa memilih perancang mode,” kata Didi.

Perancang mana yang akan dipilih, kembali pada selera dan kemampuan dana si calon pengantin.

Tips

 Perancang Sebastian Gunawan dan Didi Budiardjo memberikan tips mereka pada calon pengantin untuk memilih gaun pengantin yang baik dan sesuai.

·   Pilihlah gaun yang paling tepat untuk tubuh dan karakter supaya calon pengantin menjadi dirinya sendiri.

·   Datanglah jauh-jauh hari supaya cukup waktu untuk mendiskusikan dan mengkompromikan segala sesuatunya bersama  perancang.

·   Kenali penampilan diri sendiri setelah selesai didandani. Kalau tampak lebih dewasa, busana harus disesuaikan pula, misalnya dengan desain yang lebih simple dan bahan yang lebih berat.

·   Kenali juga penampilan pengantin pria, apakah ia tampak lebih muda atau lebih tua dari pengantin wanita.  Dengan demikian dapat dicarikan busana yang tidak membuat pengantin wanita tampak terlalu tua di sisi mempelai pria atau sebailknya.

·   Pinggang kecil dan pinggul besar, sebaiknya memakai rok dengan bentuk dome atau bell shape. Sangat tidak dianjurkan memakai potongan duyung.

·   Untuk pinggang lurus dan pinggul kecil, pakailah gaun dengan garis pinggang tinggi.

·   Perhatikan pula tema pesta, atmosfer pesta, besarnya ruangan dan jumlah tamu yang diundang.

·   Kulit rata-rata wanita Indonesia yang mengandung unsur merah lebih pantas memakai gaun warna off white atau ivory. Warna putih akan lebih cocok untuk kulit Eropa atau Amerika yang lebih pinkish.

·   Veil sebaiknya digunakan hanya pada saat religius wedding di gereja untuk dipakai dalam moment “kiss the bride”. Saat memasuki ruang resepsi,  sebaiknya dilepas supaya lebih praktis karena pesta biasanya diakhiri dengan dansa.

·   Bila gaun pengantin berlengan panjang, sebaiknya glove tidak dipakai karena kesannya terlalu ramai.

·   Realistis dengan dana yang ada.

·   Kalau cukup dana, tidak ada salahnya memesan pada perancang ternama karena akan mendapatkan gaun yang sesuai dan konsultasi yang baik. Sebaiknya juga memberi kepercayaan penuh pada perancang supaya hasilnya maksimal. Karena perancang biasanya lebih berpengalaman. (MB)