Edisi Agustus 2002
 

Karakter Dulu, Baru Bergaya

 
       
 
 
 
Cara Supaya ...
Celana Yang ...
Thank God It's ...
Karakter Dulu, ...
Tetap Gaya Di ...
Gaun Pengantin
Bahasa Tubuh ...
 
HOME
 

Suatu kali perancang Jepang Issey Miyake pernah bilang begini : 

“Dalam berkarya saya menciptakan busana, bukan menciptakan mode,  karena bagi saya busana itu lebih dekat hubungannya dengan pemakainya, ada hubungan jiwa antara tubuh dan pakaian. Sementara mode bisa habis masanya, tapi pakaian melekat terus pada diri pemakainya.  Jadi bagi seorang pemakai, lebih penting busana daripada mode,” katanya.

Memang kelihatan dalam sekali pemikirannya, filosofinya.  Karena dalam, maknanya sangat berarti. Bahwa pakaian itu harusnya menunjukkan karakter pemakainya. Kita berpakaain bukan ia terjebak mode atau lingkungan, tapi memancarkan jiwa, jita diri.

Seorang pria muda pernah menceritakan pengalamannya. Topiknya tentang penampilan istrinya, seorang wanita  yang cukup gaul dan modern.  Setelah hidup bersama dan makin kenal dengan pasangannya, pria itu menyadari suatu hal.

Baginya lama kelamaan istrinya bukan lagi wanita yang ia kenal dulu. Ia kini melihat dandanan, pilihan busana sampai sepatu dan tas istrinya semakin mirip dengan teman-temannya, malah seperti banyak wanita lain yang ia jumpai di kafe atau berpapasan di mal.

Keyakinan bertambah ketika perhatiannya sepintas berhenti di saluran TV yang lagi memutar sebuah sinetron lokal.  Ia melihat beberapa tokoh wanita di situ memakai kaos ketat, mengapit tas, rambutnya panjang lurus, memakai celana panjang dengan sepatu sandal. Tidak beda dengan gaya tampilan istrinya.

Senangkah pria itu ? Ternyata ia menjadi bingung sendiri. “Apa dong bedanya penampilan istri saya dengan orang lain ? Kok seragam, ya ?” katanya dalam hati.

Dari situ dapat ditangkap tangkap makna kisahnya. Dengan melihat istrinya bergaya seragam seperti banyak orang di  lingkungannya, ia merasa sang istri telah kehilangan karakter, jati dirinya. Banyak wanita memang merasa sudah berpakain dengan baik. Malah bangga karena bisa mengikuti mode terbaru. Bagi mereka ukuran berpakaian yang pantas ditentukan lewat  ketepatan meniru apa yang dipakai seorang idola atau teman terdekatnya. Kalau bisa  semirip mungkin dengan gaya dandan yang ia lihat setiap pagi pada halaman mode majalah wanita.

Padahal sebenarnya belum tentu ia punya tingkah laku, gaya bicara, pembawaan, postur dan sederet hal lain yang sama dnegan orang yang ia jadikan panutan itu. Setiap orang punya gayanya sendiri, bahkan di antara si kembar sekalipun.

Memang susahnya untuk bisa tampil berkarakter,  punya style,  tidak semudah meniru. Di dunia ini saja, sepanjang sejarah mode misalnya, hanya ada segelintir wanita yang dianggap punya style. Gaya pakaian sampai dandanan mereka begitu khas dan tidak ikut-ikutan. Justru karena berkarakter mereka bisa mempengaruhi orang di sekelilingnya. 

Sebut saja misalnya Coco Chanel dengan gaya pakaiannya yang berciri setelan hitam dengan kalung mutiara panjang yang dipakai berlapis-lapis.  Contoh lain Jackie O. Dengan topi bundar, kacamata lebar, rambut flip dan gaun mini sederhana ia menciptakan look tersendiri, yang sampai sekarang tidak habis-habisnya dijadikan inspirasi dunia mode.

Penyanyi kontroversial Madonna juga salah satu wanita dunia yang dianggap punya penampilan yang berkarakter dengan gaya bra sampai penampilannya yang selalu trendy.

Kini ada juga Alicia Keys dengan rambut kepang kecil dan jaket panjangnya atau penyanyi Macy Gray dengan rambut kribo dan baju hippynya.

Aktris Sarah Jesica Parker, yang sukses lewat sinetron Sex and the City termasuk wanita berpakaian khas dengan gayanya yang  bohemia eklektik.

Di tanah air ada beberapa nama yang cukup menarik perhatian. Di antaranya, Kris Dayanti yang selalu muncul glamor dengan bustier dan rambut besarnya akhir-akhir ini. Melly Guslow juga punya gaya yang begitu independen. Jajang C Noer yang selalu berkebaya juga menampilkan karakter tersendiri.

Padahal kini orang semakin bebas untuk mengekspresikan dirinya, baik dalam bentuk pemikiran, sikap, kreativitas dan banyak hal lain. Gaya individu semakin diterima dan dihargai. Seorang penulis bisa membuat novel macam Saman atau Supernova dengan cara bertutur sangat bebas mencampur banyak gaya sastra. Sangat individual. Atau orang tidak peduli lagi wanita menjadi aktivis.

Sayangnya ungkapan sikap pribadi itu tidak banyak ditemui dalam gaya berpakaian wanita. Orang lebih suka menikmati mode sebagai bagian dari pergaulannya, bukan sebagai sikap pribadinya. 

Padahal dengan lebih menonjolkan karakter sendiri, seseorang akan merasa lebih percaya diri  karena menjadi diri sendiri. Kalau sudah menjadi diri sendiri ia akan lebih mudah menjalankan banyak sisi kehidupan dengan nyaman.  

Bagi yang merasa belum menonjolkan karakter diri, Anda  masih punya kesempatan. Mulailah dari sekarang. Bagaimana pun penampilan masih bisa dibentuk dan ditata. Berikut ini beberapa caranya.

1. Kenali diri sendiri. Anda merasa tipe wanita seperti apa ? Romantis, praktis atau tipe lainnya. Untuk mengenalinya, Anda bisa dipelajari kebiasaan sendiri. Misalnya, apa aktivitas Anda. Apa hobi dan kesukaan Anda mengumpulkan pernak-pernik antik, senang melukis atau lebih suka menata interior.  Musik kegemaran juga biasanya ikut membentuk jiwa seseorang. Wanita yang senang lagu-lagu lagu pop biasanya akan senang hal yang praktis dan baru.

Kalau sudah kenal tipe diri sendiri, biasanya akan lebih mudah menentukan jenis busana. Orang-orang kreatif biasanya akan tampil lebih ekspresif. Wanita sportif lebih memilih karaker baju yang lebih ringan dan praktis.

2.  Kenali pekerjaan Anda. Seorang notaries biasanya akan punya batas-batas tersendiri dalam memilih benda-benda yang akan dipakainya. Kalau Anda hanya ibu rumah tangga biasa yang jarang sekali keluar rumah untuk pesta atau resepsi, tentu akan merasa risih memakai gaun bertali bahu kecil.

Dari bidang kerja ini biasanya terbentuk karakter tampilan tertentu. Banyak aktivis wanita atau seniman kita, seperti Debra Yatim, Zumrotin atau Ratna Sarumpaet,  umpamanya,  senang memakai gaya etnik atau memberi sentuhan etnik pada tampilannya. Tentu ini sebuah fenomena yang perlu dipelajari. Setidaknya ada karakter khas yang muncul dari wanita-wanita dengan profesi dan pandangan yang sama.

3.  Ciptakan gaya sendiri tanpa pengaruh teman atau lingkungan. Tentu saja trend mode sangat diperlukan untuk dijadikan referensi kekinian kita. Cobalah tidak usah selalu ikut-ikutan orang. Memakai tas kepit yang memang sedang digemari saat ini boleh-boleh saja. Tapi kenapa harus memaksa tas berlogo LV atau Fendi. Kenapa tidak mengepit tas anyaman cantik saat memakai gaun, misalnya.

Tapi hati-hati. Untuk membentuk karakter sendiri harus punya selera dan wawasan yang luas. Contohnya, kalau Anda tidak punya selera yang bagus dalam memadu, memakai gaun dan sepatu sport sebagai cara menonjolkan sebuah karakter baru, bisa jadi malah akan kelihatan norak.

 4. Yang sering terjadi, karena ingin menonjolkan karakter, orang melakukannya dengan asal-asalan. Hasilnya malah jadi salah kaprah. Ukuran untuk punya karakter dan gaya, bukan dari keberhasilan menciptakan tampilan yang aneh atau sekedar berani tampil beda.

Juga bukan harus selalu dengan pakaian yang trendy. Gaya klasik yang ditampilkan sesuai dengan karakter diri juga bisa kelihatan menarik. Tonjolkan selera pribadi. Dan yang penting, Anda harus membawakan dan menatanya dengan penuh selera dan gaya.

5. Terakhir, rasakan dan bentuklah terus apa yang telah Anda tata. Perbaiki dengan mengurangi hal-hal yang dirasa tidak sesuai dengan jiwa. Kalau konsisten menampilkan diri sesuai jiwa, biasanya akan terbentuk sebuah tampilan yang berkarakter dan bergaya khas.  (Muara Bagdja)

IKON MODE

Beberapa wanita  ini sering menjadi contoh wanita berkarakter yang punya tampilan khas dan gaya. Malah di antaranya dianggap sebagai ikon mode dunia. Di tanah air pun kita memiliki beberapa nama yang selalu dijadikan contoh setiap kali bicara soal penampilan yang punya ciri tersendiri.

Coco Chanel, 1935.

Audrey Hepburn, akhir 1950.

Jackie O, 1960an.

Janis Joplin, 1970an.

Madonna, awal 1990.

Sarah Jessica Parker, 2001.

Kris Dayanti, 2002.

Melly Guslaw, 2002. (MB)